
Ramadhan, Alhamdulillah aku masih bernafas hingga hari keduapuluh satu ini. Eum, ada beberapa cerita spesial yang kulalui di bulan ini. Sebagaimana Rasululah dan orang-orang yang sangat ingin mendapat ampunan Allah sangat mencintai dan menyukai bulan ini, aku baru belajar mengejar segala ke-spesial-an Ramadahan sejak beberapa tahun lalu.
Salah satunya, perihal JiLbab PerdaNa. Bicara tentang jiLbab PerdaNa, semua anak perempuan yang baru belajar mengenal Islam pasti punya cerita masing-masing yang dirasakan khusus. Begitu juga yang kurasakan. Kisah ini sudah diketahui oleh beberapa sahabat yang benar-benar dekat denganku. Sekarang, aku akan bercerita pada siapapun yang yang mau mengambil hikmahnya.
Nah, cerita ini terjadi saat aku duduk di bangku kelas 2 di SMU, tahun 2000 silam. Hatiku begitu berdebur dan gelisah. Aku belum menutup seluruh tubuh yang menjadi kewajibanku, aku sudah tahu, tapi masih belum berani mengambil keputusan seperti memakai jilbab seperti seorang temanku, Nina.
Namun entah mengapa, aku merasa sangat resah. Bahkan sangat bersedih hati melihat kedua lenganku yang masih terbuka di depan orang-orang yang kuanggap tak berhak melihatnya. Untuk pertama kalinya, aku menangis melihat baju-baju berlengan pendek saat aku mencuci. Aneh, sekaligus menyentuh. Karena itu pertama kali aku merasa begitu berdosa pada diriku sendiri. “Maaf, aku belum menutupimu dari yang tak berhak melihatnya…”
Hmh, lalu kusampaikan keinginanku yang telah menjadi azam kepada mama, tapi pada awalnya, ini sangat tidak mudah. Mama tak setuju waktu itu. Demikian pula Apa, tak mengiyakan permohonanku. Aku menangis dan marah pada keduanya. “Anak ingin nutup aurat kok nggak boleh?!” protesku.
Keras pasti dibalasi kekerasan, karena caraku yang kurang santun, mamaku malah jadi emosi, “Bukan nggak boleh, tapi tidak sekarang! Nanti kalau sudah lulus SMU, mau pakai jilbab, pakailah. Mama jahitin baju-bajunya nanti. Sekarang baju seragammu yang banyak itu mau diapakan? Lagian daripada nanti pas sudah tua, baru pengen bergaya kayak anak muda, mending sekarang lagi muda, sepuasnya bergaya ala anak muda!” pendapat beliau waktu itu. Aku diam, tak setuju. Dalam hati ini aku membantah, “Bagaimana kalau nyawaku diambilnya sekarang? Apa masih ada waktu sampai aku jadi wanita tua yang baru ingin taubat?”
Hari berlalu, dan aku mengalah untuk dua minggu. Sempat terbetik rasa ragu dalam hatiku tentang hukum menutup aurat ini, maka akhirnya aku pergi menemui guru agamaku di sekolah, Pak Katno. Aku bertanya padanya, bagaimana sebenarnya hukum menutup aurat ini, apakah hukum mengerjakan sholat fardhu dan menutup aurat itu sama wajibnya. Beliau menjawab, “Benar.” Lalu kutanyakan lagi, apakah kalau aku tidak menutup aurat sebagaimana diperintahkan dalam An-Nur 31 dan Al-Ahzab 59, sama dengan berdosanya kalau aku meninggalkan sholat fardhu. Beliau menjawab, “Tentu saja.” Aku menjadi semakin gelisah.
Aku mengecek berkali-kali di Quran terjemahan yang kumiliki. Memang benar, perintah sholat diserukan di banyak surat, dan ini wajib bagi semua muslim. Tetapi bagi puasa, sedekah, ibadah, muamalah (amal/kegiatan sehari-hari) dan hal menutup aurat, Allah Menyeru manusia dengan menggunakan, “Hai Orang-orang yang beriman…”, dan “Katakanlah kepada wanita yang beriman…” serta “Hai nabi, katakanlah kepada … istri-istri kaum mukmin…”
Hal ini bagiku berarti, saat itu aku telah meninggalkan sebuah kewajiban yang sebelumnya tak kutahu, namun kini aku sudah tahu, masihkah akan tidak melaksanakannya? Dan kalau aku merasa sebagai orang beriman ketika diseru untuk berpuasa lalu aku berpuasa, lantas mengapa tidak merasa sebagai wanita beriman ketika diseru untuk menutup aurat lalu menutup aurat yang mesti ditutup?
Tidak ada yang membuatku merasa terdesak untuk mengenakan jilbab, sekalipun itu mentorku, ataupun kakak tingkat yang saat itu sedang giat mendakwahi kami untuk menutup aurat. Tidak juga janji terhadap siapapun, seperti yang pernah diduga oleh beberapa teman. Niat ini pun sudah ada sebenarnya sejak aku masih SMP, hanya saja ilmuku belum memadai, selain sekedar keinginan saja untuk memakai jilbab.
Namun akhirnya, saat malam pertama Ramadhan 1421 H berkumandang di paruh akhir tahun itu, aku sudah bertekad mengenakan jilbabku untuk seumur hidup. Banyak janji tergumam dalam hatiku. Dan aku ingin berubah, ingin berubah, ingin berubah, menjadi lebih baik. Orangtuaku belum tahu keputusan ini, hingga pagi hari, siang dan sore, aku berjalan-jalan keluar rumah dengan mengenakan jilbab putih yang dibelikan mama ketika pesantren kilatku di kelas 3 SMP. Alhamdulillah. Sampai hari berikutnya, mama tak melarangku untuk mengenakannya saat pergi belanja ke pasar dengan beliau. Bagiku, ini sama dengan ACC menutup auratku. Alhamdulillah, mamalah yang kemudian menjahitkan pakaian-pakaian sekolahku yang baru. Subhanallah, Maha suci Allah Yang membuka hatiku dan hati kedua orangtuaku.
Sekarang aku, mama dan adik perempuanku nomor dua sudah menutup aurat, masih ada adik perempuan bungsuku yang perlu dibimbing untuk menutup aurat ini (Siapapun yang membaca cerita ini, mohon doakan kami yaaa!)
Yang kupahami tentang hal ini adalah, menutup aurat adalah garis start, sedang perjuangan memperbaiki diri itu sangat panjang. Menutup aurat adalah modal, sedang berikutnya aku harus memperkaya diri dengan ilmu dan aplikasi. Menutup aurat yang dikatakan menjadi ciri wanita shalihah itu semoga menjadi kebenaran. Menutup aurat sebagai pembatas antara aku dan kemaksiatan, dan malu terhadap batas itu. Dan menutup aurat, menjadi bahan untuk mengevaluasi diri ketika lalai dan salah.
Rabbana, laatuzigh kulubana, ba’daidz hadaitana, wahablana, mila dunka rahmatan, innaka antal wahab…
link: http://irynfadila.blogspot.com/